<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ilmugiziindonesia's Weblog &#187; Diabetes</title>
	<atom:link href="http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/category/diabetes/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Jul 2008 06:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ilmugiziindonesia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f5b45607b48dc780b222ed9e361d2735?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ilmugiziindonesia's Weblog &#187; Diabetes</title>
		<link>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Diabetes, The Sillent Killer</title>
		<link>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/diabetes-the-sillent-killer/</link>
		<comments>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/diabetes-the-sillent-killer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 05:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmugiziindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmugiziindonesia.wordpress.com&blog=4121115&post=6&subd=ilmugiziindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.</p>
<p>Menurut data WHO, <strong>Indonesia</strong><strong> menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia</strong>. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.</p>
<p>Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.</p>
<p>Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.</p>
<p>Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.</p>
<p>Berikut ini hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang diabetes untuk meningkatkan kesadaran akan diabetes :</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#satu">Apa sih Diabetes      Mellitus?</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#dua">Ketahui Penyebab &amp;      Tipe Diabetes Mellitus</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#tiga">Sulitnya Membaca Gejala Diabetes</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#empat">Mendiagnosis Diabetes      Mellitus</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#lima">Komplikasi Diabetes Bisa      Mematikan</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#penanganan_stroke">Terapi Untuk      Diabetes Mellitus</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#ada_harapan">Mencegah Bahaya      Komplikasi</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#lifestyle"><span lang="SV">Hindari Diabetes dengan Ubah Gaya Hidup</span></a></li>
</ol>
<p>Setelah mengetahui semua hal yang tentang diabetes, jangan lewatkan:</p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:6%;padding:0.75pt;" width="6%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">z</p>
</td>
<td style="width:94%;padding:0.75pt;" width="94%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#expert_review"><strong><em>Expert   Review</em></strong></a> oleh ahli penyakit dalam spesialis endokrin metabolik   diabetes yaitu <strong>Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE</strong> yang juga Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (<a href="http://www.persadia.org/"><strong>PERSADIA</strong></a>).</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">z</p>
</td>
<td style="padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#sembilan"><span lang="SV">Pentingnya Pemantauan Pengujian gula   darah bagi diabetesi</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">z</p>
</td>
<td style="padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Bagi Anda   Diabetesi , PASTIKAN <strong><br />
</strong></span><strong><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#sepuluh"><span lang="SV">Monitor selalu..!! Si Manis dalam Darah   Anda</span></a></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h4><span style="color:#3366ff;">Apa sih Diabetes Mellitus?</span><a name="satu"></a></h4>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;                     &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><strong><span lang="SV">Diabetes mellitus </span></strong><span lang="SV">adalah suatu penyakit dimana kadar <em>glukosa</em> (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan <em>insulin</em> secara cukup.</span></p>
<p><span lang="SV">Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.</span></p>
<p><span lang="SV">Nah, berapa kadar gula darah yang disebut tinggi? Menurut <strong>kriteria diagnostik PERKENI</strong> (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki <strong>kadar gula darah puasa &gt;126 mg/dL</strong> dan <strong>pada tes sewaktu &gt;200 mg/dL</strong>.</span></p>
<p><span lang="SV">Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam.</span></p>
<p><span lang="SV">Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.</span></p>
<p><span lang="SV">Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak.</span></p>
<p><span lang="SV">Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. </span></p>
<p><span lang="SV">Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Ketahui Penyebab &amp; Tipe Diabetes Mellitus</span><a name="dua"></a></h4>
<p><span lang="SV">Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin.</span></p>
<p><span lang="FI">Ada 2 tipe Diabetes Mellitus, yaitu: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Diabetes Mellitus      tipe 1</strong> (diabetes yang tergantung kepada insulin)</li>
<li class="MsoNormal"><strong>Diabettes Mellitus      tipe 2 </strong>(diabetes yang tidak tergantung kepada insulin, <em>NIDDM</em>)</li>
</ol>
<table class="MsoNormalTable" style="border:1.5pt outset;width:100%;" border="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0 50%;width:203.25pt;padding:1.5pt;" width="271">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Diabetes Mellitus tipe 1</strong><strong></strong></p>
</td>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0 50%;width:171pt;padding:1.5pt;" width="228">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Diabetes Mellitus tipe 2</strong><strong></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:203.25pt;padding:1.5pt;" width="271" valign="top">
<p class="MsoNormal">Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali   tidak menghasilkan insulin</p>
</td>
<td style="width:171pt;padding:1.5pt;" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pankreas tetap   menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh   membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin   relatif</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:203.25pt;padding:1.5pt;" width="271" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Umumnya terjadi   sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja.</span></p>
</td>
<td style="width:171pt;padding:1.5pt;" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Bisa terjadi   pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:203.25pt;padding:1.5pt;" width="271" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Para ilmuwan   percaya bahwa faktor lingkungan (berupa infeksi virus atau faktor gizi pada   masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan   sel penghasil insulin di pankreas. </span>Untuk terjadinya hal ini diperlukan   kecenderungan genetik.</p>
</td>
<td style="width:171pt;padding:1.5pt;" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal">Faktor resiko untuk diabetes tipe 2 adalah <strong><em>obesitas</em></strong> dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:203.25pt;padding:1.5pt;" width="271" valign="top">
<p class="MsoNormal">90% sel penghasil insulin (<em>sel beta</em>) mengalami   kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus   mendapatkan suntikan insulin secara teratur</p>
</td>
<td style="width:171pt;padding:1.5pt;" width="228" valign="top">
<p class="MsoNormal">Diabetes Mellitus tipe 2 juga cenderung diturunkan secara   genetik dalam keluarga</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Penyebab diabetes lainnya adalah: </strong></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Kadar kortikosteroid yang      tinggi</li>
<li class="MsoNormal">Kehamilan diabetes      gestasional), akan hilang setelah melahirkan.</li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek      dari insulin.</span></li>
</ul>
<h4><span style="color:#3366ff;">Sulitnya Membaca Gejala Diabetes</span><a name="tiga"></a></h4>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span lang="SV">Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (<em><strong>poliuri</strong></em>). Akibatnya, maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (<em><strong>polidipsi</strong></em>).</span></p>
<p><span lang="SV">Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (<em><strong>polifagi</strong></em>).</span></p>
<p><span lang="SV">Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.</span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="border:1pt outset #00ccff;width:364.5pt;" border="1" cellpadding="0" width="486">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt inset #00ccff;background:#00ccff none repeat scroll 0 50%;width:160.5pt;padding:1.5pt;" width="214">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Diabetes   Mellitus tipe 1</strong><strong></strong></p>
</td>
<td style="border:1pt inset #00ccff;background:#00ccff none repeat scroll 0 50%;width:192pt;padding:1.5pt;" width="256">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Diabetes   Mellitus tipe 2</strong><strong></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt inset #00ccff;padding:1.5pt;" valign="top">Timbul tiba-tiba.</td>
<td style="border:1pt inset #00ccff;padding:1.5pt;" valign="top"><span lang="SV">Tidak ada gejala selama   beberapa tahun. Jika insulin berkurang semakin parah maka sering berkemih dan   sering merasa haus.</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt inset #00ccff;padding:1.5pt;" valign="top"><span lang="SV">Berkembang dengan cepat ke   dalam suatu keadaan yang disebut dengan <em><strong>ketoasidosis diabetikum</strong></em>.</span></td>
<td style="border:1pt inset #00ccff;padding:1.5pt;" valign="top"><span lang="SV">Jarang terjadi ketoasidosis.</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><span lang="SV">Pada penderita diabetes tipe 1, terjadi suatu keadaan yang disebut dengan <em><strong>ketoasidosis diabetikum</strong></em>. Meskipun kadar gula di dalam darah tinggi tetapi sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, sehingga sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain.</span></p>
<p><span lang="SV">Sumber untuk energi dapat berasal dari lemak tubuh. Sel lemak dipecah dan menghasilkan <em>keton</em>, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (<em>ketoasidosis</em>).</span></p>
<p><span lang="SV">Gejala awal dari <em>ketoasidosis diabetikum </em>adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah.</span></p>
<p><span lang="SV">Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, <em>ketoasidosis diabetikum</em> bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.</span></p>
<p><span lang="SV">Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita <strong>diabetes tipe 1</strong> bisa mengalami <em>ketoasidosis</em> jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.</span></p>
<p><span lang="SV">Penderita <strong>diabetes tipe 2</strong> bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami <em>dehidrasi</em> berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut <em>koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik</em>.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Mendiagnosis Diabetes Mellitus</span><a name="empat"></a></h4>
<p><span lang="SV">Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejalanya yaitu 3P (<em>polidipsi, polifagi, poliuri</em>) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi (tidak normal). Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan.</span></p>
<p><span lang="SV">Perlu perhatian khusus bagi penderita yang berusia di atas 65 tahun. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa dan jangan setelah makan karena usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.</span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:150pt;" border="1" cellpadding="0" width="200">
<tbody>
<tr>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;" colspan="4">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Kriteria Diagnostik Gula darah (mg/dL)</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Bukan Diabetes</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Pra Diabetes</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Diabetes</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Puasa</span></strong></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">&lt; 110</span></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">110-125</span></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="text-decoration:underline;"><span lang="SV">&gt;</span></span><span lang="SV"> 126</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#00ccff none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Sewaktu</span></strong></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">&lt; 110</span></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">110-199</span></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="text-decoration:underline;"><span lang="SV">&gt;</span></span><span lang="SV"> 200</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><span lang="SV">Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes toleransi glukosa. </span><span lang="FI">Tes ini dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil. Hal ini untuk mendeteksi diabetes yang sering terjadi pada wanita hamil.</span></p>
<p><span lang="FI">Penderita berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita diminta meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa.</span></p>
<p><span lang="FI">Hasil glukosa contoh darah dibandingkan dengan kriteria diagnostik gula darah terbaru yang dikeluarkan oleh PERKENI tahun 2006. </span></p>
<p><span lang="FI">Sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2, biasanya selalu menderita pra-diabetes, yang memiliki gejala tingkat gula darah lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa diabetes. Setidaknya 20% dari populasi usia 40 hingga 74 tahun menderita pra-diabetes. </span></p>
<p><span lang="FI">Penelitian menunjukkan beberapa kerusakan dalam jangka panjang, terutama pada jantung dan sistem peredaran darah selama pra-diabetes ini. Dengan pre-diabetes, anda akan memiliki resiko satu setengah kali lebih besar terkena penyakit jantung. Saat Anda menderita diabetes, maka risiko naik menjadi 2 hingga 4 kali. </span></p>
<p><span lang="FI">Akan tetapi, pada beberapa orang yang memiliki pra-diabetes, kemungkinan untuk menjadi diabetes dapat ditunda atau dicegah dengan perubahan gaya hidup. Diabetes dan pra-diabetes dapat muncul pada orang-orang dengan umur dan ras yang beragam, tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Komplikasi Diabetes Bisa Mematikan</span><a name="lima"></a></h4>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span lang="FI">Diabetes merupakan penyakit yang memiliki komplikasi (menyebabkan terjadinya penyakit lain) yang paling banyak. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi terus menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya.</span></p>
<p><span lang="FI">Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.</span></p>
<p><span lang="FI">Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya <em>aterosklerosis</em> (penimbunan <em>plak</em> lemak di dalam pembuluh darah). <em>Aterosklerosis</em> ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.</span></p>
<p><span lang="FI">Sirkulasi darah yang buruk ini melalui pembuluh darah besar (makro) bisa melukai otak, jantung, dan pembuluh darah kaki (<em>makroangiopati</em>), sedangkan pembuluh darah kecil (mikro) bisa melukai mata, ginjal, saraf dan kulit serta memperlambat penyembuhan luka.</span></p>
<p><span lang="SV">Penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan <em>stroke</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (<em>retinopati diabetikum)</em>. Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan <em>gagal ginjal</em> sehingga penderita harus menjalani cuci darah (<em>dialisa)</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (<em>mononeuropati</em>), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan (<em>polineuropati diabetikum</em>), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan.</span></p>
<p><span lang="SV">Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meradakan perubahan tekanan maupun suhu. Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan <em>ulkus</em> (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Terapi Untuk Diabetes Mellitus</span><a name="penanganan_stroke"></a></h4>
<p><span lang="SV">Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan.</span></p>
<p><span lang="SV">Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat.</span></p>
<p><span lang="SV">Pengobatan diabetes meliputi <strong>pengendalian berat badan, olah raga dan diet</strong>. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur.</span></p>
<p><span lang="SV">Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral.</span></p>
<p><span lang="SV">Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin.</span></p>
<p><span lang="FI">Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#hipoglikemik">Obat Hipoglikemik      Oral (OHO)</a></li>
<li class="MsoNormal"><a href="http://www.medicastore.com/diabetes/#insulin">Terapi Sulih Insulin</a></li>
</ol>
<h4>1. Obat hipoglikemik oral<a name="hipoglikemik"></a></h4>
<p>Golongan <em>sulfonilurea</em> seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah <strong>glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid</strong>. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.</p>
<p>Obat lainnya, yaitu<em> metformin</em>, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. <em><span lang="SV">Akarbos</span></em><span lang="SV"> bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.</span></p>
<p><span lang="SV">Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup.</span></p>
<p><span lang="SV">Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian.<br />
Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.</span></p>
<h4><span lang="SV">2. Terapi Sulih Insulin<a name="insulin"></a></span></h4>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span lang="SV">Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan).</span></p>
<p><span lang="SV">Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.</span></p>
<p><span lang="SV">Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.</span></p>
<p><span lang="SV">Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Insulin kerja cepat.<br />
Contohnya adalah <em>insulin reguler</em>, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar.<br />
Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam.<br />
Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>2.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Insulin kerja sedang.<br />
Contohnya adalah <em>insulin suspensi seng</em> atau<em> suspensi insulin isofan</em>.<br />
Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam.<br />
Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>3.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Insulin kerja lambat.<br />
Contohnya adalah <em>insulin suspensi seng yang telah dikembangkan</em>.<br />
Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.</span></p>
<p><span lang="SV">Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" colspan="2" valign="top"><strong>Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:</strong></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:6%;padding:1.5pt;" width="6%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="width:94%;padding:1.5pt;" width="94%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Keinginan   penderita untuk mengontrol diabetesnya</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan   menyesuaikan dosisnya</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Aktivitas harian penderita</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kecekatan penderita   dalam mempelajari dan memahami penyakitnya</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kestabilan   kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span lang="SV">Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal.</span></p>
<p><span lang="SV">Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. </span><span lang="FI">Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.</span></p>
<p><span lang="FI">Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.</span></p>
<p><span lang="FI">Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga.</span></p>
<p><span lang="SV">Beberapa penderita mengalami <em>resistensi</em> terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk <em>antibodi </em>terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.</span></p>
<p><span lang="SV">Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.</span></p>
<p><span lang="SV">Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.</span></p>
<p><span lang="SV">Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.</span></p>
<p><span lang="SV">Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.</span></p>
<p><span lang="SV">Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Mencegah Bahaya Komplikasi</span><span lang="SV"> <a name="ada_harapan"></a></span></h4>
<p><span lang="SV">Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari pengobatan diabetes. Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih; tetap pemeriksaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan.</span></p>
<p><span lang="SV">Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh penderita di rumah menggunakan alat pengukur glukosa darah. Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat hipoglikemiknya dapat disesuaikan.</span></p>
<p><span lang="SV">Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah sehingga terjadi <strong>hipoglikemia</strong>. Hipoglikemia (rendahnya kadar gula dalam darah) juga bisa terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena pengaruhnya adalah otak. Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai membuat glukosa dari <em>glikogen</em> yang tersimpan di hati.</span></p>
<p><span lang="SV">Proses ini melibatkan pelepasan <em>epinefrin</em> (<em>adrenalin</em>), yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran. Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.</span></p>
<p><span lang="SV">Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap. Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula.</span></p>
<p><span lang="SV">Oleh sebab itu, penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.</span></p>
<p><span lang="SV">Penderita diabetes tipe I harus selalu membawa <em>glukagon</em>, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat memakan makanan yang mengandung gula.</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" colspan="2" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Gejala-gejala   dari kadar gula darah rendah:</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:6%;padding:1.5pt;" width="6%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="width:94%;padding:1.5pt;" width="94%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Rasa lapar yang   timbul secara tiba-tiba</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Sakit kepala</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">*</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*</span></p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Badan gemetaran</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*</span></p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Berkeringat</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*</span></p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Bingung</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="SV">*</span></p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Penurunan   kesadaran, koma.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span lang="SV">Ketoasidosis diabetikum</span></strong><span lang="SV"> merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma bahkan kematian. Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif. Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium, kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air kemih yang berlebihan. </span></p>
<p><span lang="SV">Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera dan dosisnya disesuaikan. Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam, sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan.</span></p>
<p><span lang="SV">Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.</span></p>
<p><span lang="SV">Pengobatan untuk <strong>koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik</strong> sama dengan pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum yaitu diberikan cairan dan elektrolit pengganti. Kadar gula darah harus dikembalikan secara bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak terlalu berat. </span></p>
<p><span lang="SV">Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang secara progresif. <strong>Retinopati diabetik</strong> dapat diobati secara langsung dengan pembedahan laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.</span></p>
<p><span lang="SV">Penelitian terakhir menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda atau diperlambat dengan mengontrol kadar gula darah. Mengontrol kadar gula darah dapat dilakukan dengan terapi misalnya patuh meminum obat.</span></p>
<h4><span style="color:#3366ff;">Hindari Diabetes dengan Ubah Gaya Hidup</span><span lang="SV"> <a name="lifestyle"></a></span></h4>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span lang="SV">Faktor keturunan memiliki pengaruh apakah seseorang dapat terkena diabetes atau tidak. Selain keturunan, gaya hidup juga berperan besar. Diabetes tipe 2 sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas atau kegemukan merupakan pemicu terpenting penyebab diabetes.</span></p>
<p><span lang="SV">Obesitas artinya berat badan berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan idaman. Juga berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2. Lemak yang berlebih akan menyebabkan resistensi terhadap insulin. Ini menjelaskan mengapa diet dan olahraga merupakan metode penatalaksanaan untuk diabetes tipe 2.</span></p>
<p><span lang="SV">Dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot, akan mengurangi jumlah lemak sehingga membantu tubuh memanfaatkan insulin dengan lebih baik. Ternyata ada hubungan antara diabetes tipe 2 dengan letak tumpukan lemak terbanyak. Bila timbunan lemak terbanyak terdapat di perut maka risiko terkena diabetes lebih tinggi.</span></p>
<p><span lang="SV">Para peneliti juga percaya bahwa gen yang membawa sifat obesitas ikut berperan dalam menyebabkan diabetes. Gen yang bernama gen obes ini mengatur berat badan melalui protein pemberi kabar apakah kita lapar atau tidak. Pada percobaan dengan tikus, bila gen ini bermutasi maka tikus akan menjadi obes dan mengalami diabetes tipe 2.</span></p>
<p><span lang="SV">Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di depan TV dan komputer. Menonton TV akan menyebabkan tidak bergerak juga berpengaruh terhadap pola makan mengemil.</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" colspan="2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">Bagaimana cara mengatasi kegemukan untuk   menghindari diabetes?<br />
Caranya mudah, murah dan efektif, antara lain:</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:7%;padding:1.5pt;" width="7%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1.</p>
</td>
<td style="width:93%;padding:1.5pt;" width="93%" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Membiasakan   diri untuk hidup sehat</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">2.</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Biasakan diri   berolahraga secara teratur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">3.</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal">Hindari menonton TV atau main komputer terlalu lama</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">4.</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jangan   mengkonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan garam yang tinggi.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">5.</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Hindari makanan   siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">6.</p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Konsumsi   sayuran dan buah-buahan.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span lang="SV"> </span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:99%;" border="0" cellpadding="0" width="99%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#ccffff none repeat scroll 0;padding:3.75pt;">
<h4><span lang="SV">Expert Review<a name="expert_review"></a></span></h4>
<p><span lang="SV">Umumnya, penderita diabetes   mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah terjadi komplikasi. Hal ini   diungkapkan oleh <strong>Prof.DR.Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD,KEMD,FACE </strong>di   kantornya di Bagian Metabolik dan Endokrin, FKUI/RSCM.</span></p>
<p><span lang="SV">Diabetes itu seperti rayap,   bekerja diam-diam merusak organ di dalam tubuh. Diabetes sering disebut   sebagai <strong>“The Silent Killer”</strong>. “Namun, sebenarnya   komplikasinya yang mematikan, bukan diabetesnya,” jelas Prof. Sidartawan.</span></p>
<p><span lang="SV">Gejala diabetes pun tidak   menakutkan, seperti banyak makan (<strong>polifagi</strong>), banyak minum (<strong>polidipsi</strong>),   dan kencing lancar (<strong>poliuri</strong>). Menurut Prof. Sidartawan,   dengan gejala seperti itu orang tidak pergi ke dokter. Sebaliknya jika tidak   mau makan dan susah kencing, baru orang pergi ke dokter.</span></p>
<p><span lang="SV">Diabetes mellitus bukan satu   penyakit tetapi beberapa penyakit yang memiliki gejala kadar gulanya naik.   Bisa disebabkan karena pankreasnya rusak (tipe 1), sekresi insulin menjadi   berkurang (tipe 2), obat-obatan yang mengakibatkan pankreasnya rusak dan   diabetes yang terjadi pada wanita hamil (<em>gestational</em>).</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Gaya hidup yang   bersalah</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Mereka yang memiliki risiko   tinggi terkena diabetes adalah yang memiliki riwayat keluarga mengidap   diabetes, memasuki usia di atas 40 tahun, kegemukan, tekanan darah tinggi,   selain tentu saja pola makan yang salah.</span></p>
<p><span lang="SV">Jumlah penderita diabetes di   daerah perkotaan di Indonesia pada tahun 2003 adalah 8,2 juta orang,   sedangkan di daerah pedesaan 5,5 juta orang. Diperkirakan, 1 dari 8 orang di   Jakarta mengidap diabetes. Tingginya jumlah penderita di daerah perkotaan,   antara lain disebabkan karena perubahan gaya hidup masyarakatnya.</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Diabetes tidak dapat   disembuhkan</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Karena diabetes tidak dapat   disembuhkan sepenuhnya, sudah saatnya kita melakukan tindakan pencegahan,   antara lain tidak makan berlebihan, menjaga berat badan, dan rutin melakukan   aktivitas fisik.</span></p>
<p><span lang="SV">Olahraga juga dapat secara   efektif mengontrol diabetes, antara lain dengan melakukan senam khusus   diabetes, berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Diet dipadu dengan olahraga   merupakan cara efektif mengurangi berat badan, menurunkan kadar gula darah,   dan mengurangi stres.</span></p>
<p><span lang="SV">Latihan yang dilakukan secara   teratur dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan risiko terkena   serangan jantung, serta memacu pengaktifan produksi insulin dan membuatnya   bekerja lebih efisien.</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Komplikasi diabetes   justru mematikan</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Ancaman diabetes melitus terus   membayangi kehidupan masyarakat. Sekitar 12–20% penduduk dunia diperkirakan   mengidap penyakit ini dan setiap 10 detik di dunia orang meninggal akibat   komplikasi yang ditimbulkan.</span></p>
<p><span lang="SV">Komplikasi diabetes terjadi   pada semua organ dalam tubuh yang dialiri pembuluh darah kecil dan besar   dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat   gagal ginjal. Selain kematian, DM juga menyebabkan kecacatan.</span></p>
<p><span lang="SV">Sebanyak 30% penderita DM   mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% harus menjalani   amputasi tungkai kaki. Bahkan DM membunuh lebih banyak dibandingkan dengan   HIV/AIDS.</span></p>
<p><span lang="SV">Untuk penderita diabetes,   komplikasi bisa dicegah dengan mengendalikan gula darah. Dokter tidak langsung   meresepkan obat melainkan meminta pasien agar merubah <em>lifestyle</em>nya.   “Ubah life style dengan lebih aktif melakukan kegiatan jasmani dan mengatur   makanan,” kata Prof. Sidaratawan.</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Terapi untuk diabetisi</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Bila ternyata mengubah gaya   hidup tidak berhasil baru kemudian diberikan obat. Pemberian obat ini   tergantung tipe, komplikasinya (penyakit ginjal, jantung, dll) dan berapa   lama mengidap diabetes.</span></p>
<p><span lang="SV">Obat untuk diabetes disebut   obat hipoglikemik oral (OHO) terbagi menjadi 2 kelompok yaitu obat yang   memperbaiki kerja insulin (seperti <strong>metformin, glitazone, dan akarbose</strong>)   dan obat yang meningkatkan produksi insulin (seperti <strong>sulfonil,   repaglinid dan natelinid</strong> dan <strong>insulin</strong> yang   disuntikkan).</span></p>
<p><span lang="SV">Kelompok pertama bekerja pada   temapat dimana terdapat insulin yang mengatur gula darah seperti di hati,   usus, otot dan jaringan lemak. Kelompok kedua meningkatkan pelepasan insulin   ke sirkulasi, sedangkan insulin yang disuntikkan menambah kadar insulin di   sirkulasi darah.</span></p>
<p><span lang="SV">Ketidakpatuhan mengkonsumsi   obat merupakan penyebab utama kegagalan terapi sehingga penderita diabetes   perlu diedukasi. Sebaiknya penderita diabetes melakukan konsultasi secara   berkala dengan dokter. Selain itu dituntut sikap disiplin dan kepatuhan dalam   mengonsumsi obat maupun suntik insulin agar tidak terjadi komplikasi   penyakit.</span></p>
<p><strong><span lang="SV">Cegah &amp; Deteksi   Diabetes</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Di Indonesia, sekitar 95% kasus   adalah diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2 ini, penyebabnya tidak hanya   faktor keturunan tapi juga gaya hidup misalnya kegemukan yang terjadi akibat   gaya hidup makan kaya lemak dan tidak berolahraga. </span></p>
<p><span lang="SV">Faktor keturunan tidak bisa   dicegah tapi gaya hidup bisa diubah. “Jangan sampai gemuk, jangan banyak   makan makanan berlemak dan manis serta banyaklah bergerak,” saran Prof   Sidartawan.</span></p>
<p><span lang="SV">Risiko diabetes setiap tahunnya   meningkat 30 persen, sehingga Prof. Sidartawan menyarankan agar melakukan   pemeriksaan gula darah setahun sekali jika kita termasuk dalam satu atau dua   dari faktor risiko diabetes.</span></p>
<p><span lang="SV"> </span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<h4><span lang="SV">Pentingnya Pemantauan Pengujian Gula Darah bagi Diabetesi<a name="sembilan"></a></span></h4>
<p><span lang="SV">Pemantauan kadar gula darah penderita diabetes <strong><em>(diabetesi)</em></strong> secara teratur merupakan bagian yang penting dari pengendalian diabetes, terutama penderita DM tipe 1, DM tipe 2 dengan terapi insulin, DM tipe 2 yang sering mengalami hipoglikemia dan DM Gestasonal.</span></p>
<p><span lang="SV">Pemantauan kadar gula darah ini penting karena <strong>membantu menentukan penanganan medis yang tepat sehingga mengurangi resiko komplikasi yang berat,</strong> dan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes.</span></p>
<p><span lang="SV">Pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan dengan berbagai cara baik di laboratorium, klinik bahkan dapat dilakukan pemantauan kadar gula mandiri yang dapat dilakukan pasien dirumah dengan menggunakan alat yang bernama <strong>Glukometer.</strong></span></p>
<p><strong><span lang="SV">Mengapa Diabetesi harus monitor kadar gula darah dengan Glukometer?</span></strong><span lang="SV"> </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">Lebih ekonomis dan praktis di      banding pemeriksaan di laboratorium</li>
<li class="MsoNormal">Untuk menyesuaikan dosis      obat, terutama bagi pengguna insulin sehingga terhindar dari hipoglikemia</li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Kadar Gula penderita Diabetes Mellitus tipe I      sangat berfluktuasi dan cepat berubah</span></li>
</ol>
<p><span lang="SV">Konsultasikan kepada dokter, kapan dan seberapa sering Anda harus melakukan tes tersebut. Karena dapat bervariasi. Dianjurkan pagi hari sebelum sarapan, dua jam setelah makan, dan malam hari sebelum tidur. Perlu pula pengukuran pada saat tertentu lainnya. Contohnya pengukuran yang lebih ketat bila terjadi hipoglikemia (menurunnya kadar gula darah secara tidak normal), saat sebelum olahraga dan pada kehamilan.</span></p>
<p><span lang="SV">Simpan catatan dari tes darah, obat-obatan yang dikonsumsi, serta aktivitas harian Anda. Dan bawa catatan tersebut bila Anda berkonsultasi ke dokter.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;" lang="SV">Yang perlu diperhatikan dalam memilih Alat Glukometer, adalah alat yang memiliki tingkat akurasi hasil yang tinggi / mendekati hasil laboratorium, terpercaya serta mudah digunakan.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmugiziindonesia.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmugiziindonesia.wordpress.com&blog=4121115&post=6&subd=ilmugiziindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/diabetes-the-sillent-killer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ebed8577d12de577d9750e9aa8c7482?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmugiziindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspadai komplikasi kaki diabetik</title>
		<link>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/waspadai-komplikasi-kaki-diabetik/</link>
		<comments>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/waspadai-komplikasi-kaki-diabetik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 04:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmugiziindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/waspadai-komplikasi-kaki-diabetik/</guid>
		<description><![CDATA[Penyandang diabetes mellitus perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan kakinya, karena diabetes dapat menimbulkan komplikasi yang dikenal dengan istilah kaki diabetik (diabetic foot). Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang masih luput dari perhatian. Padahal, konsekuensi dari kaki diabetik yang terlanjur memburuk dapat menyebabkan gangren dan mengarah pada tindakan amputasi.
Kaki diabetik merupakan komplikasi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmugiziindonesia.wordpress.com&blog=4121115&post=10&subd=ilmugiziindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes mellitus</a> perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan kakinya, karena <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> dapat menimbulkan komplikasi yang dikenal dengan istilah kaki diabetik (<em>diabetic foot</em>). Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> yang masih luput dari perhatian. Padahal, konsekuensi dari kaki diabetik yang terlanjur memburuk dapat menyebabkan gangren dan mengarah pada tindakan amputasi.</p>
<p>Kaki diabetik merupakan komplikasi yang serius dan mahal dari <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a>. Meningkatnya prevalensi <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> di dunia menyebabkan peningkatan kasus amputasi kaki karena komplikasi <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a>. Studi epidemiologi melaporkan lebih dari satu juta amputasi dilakukan pada penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> setiap tahunnya. <span lang="SV">Ini berarti setiap 30 detik ada kasus amputasi kaki karena </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV"> di seluruh dunia.</span></p>
<p>Umumnya kaki diabetik didahului dengan adanya ulkus (luka). Hanya sekitar dua pertiga dari ulkus yang dapat sembuh dengan cepat, sisanya berakhir dengan amputasi. <span lang="FI">Rata-rata diperlukan waktu sekitar enam bulan untuk penyembuhan ulkus. Baik ulkus maupun amputasi memiliki dampak yang besar pada kualitas hidup penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a><span lang="FI">, yakni terbatasnya kebebasan bergerak, terisolasi secara sosial, dan menimbulkan stres psikologis.</span></p>
<p>Kaki diabetik juga merupakan masalah ekonomi yang nyata, mengingat penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a><span lang="FI"> dengan kaki diabetik umumnya membutuhkan perawatan yang lama, rehabilitasi, biaya yang tidak sedikit, dan risiko amputasi yang besar.</span></p>
<p>Menurut Dr. dr. Aris Wibudi, SpPD selaku Ketua Umum PB PEDI (Perhimpunan Edukator Diabetes Indonsia), komplikasi kaki diabetik sebenarnya dapat dicegah. Dengan menerapkan strategi yang menggabungkan upaya pencegahan, perawatan jika terjadi ulkus pada kaki, penanganan medis yang sesuai, kadar gula darah yang terkendali, serta edukasi terhadap penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a><span lang="FI"> dan tenaga medis, dapat menurunkan kemungkinan risiko amputasi sampai 85%.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Verdana;color:#0066ff;">Masalah Kaki pada Penyandang Diabetes</span></strong></p>
<p><span lang="FI">Setiap orang dapat mengalami masalah pada kaki seperti di bawah ini. Namun bagi penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a><span lang="FI"> dengan kadar gula darah yang tidak terkendali, masalah kaki ini dapat mengarah kepada terjadinya infeksi dan konsekuensi yang lebih serius seperti amputasi. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kalus</span></strong><span lang="FI"><br />
Merupakan penebalan kulit yang umumnya terjadi di telapak kaki. Kalus      disebabkan gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama, distribusi      berat tubuh yang tidak seimbang, sepatu yang tidak sesuai, atau kelainan      kulit. </span>Kalus dapat menjadi berkembang menjadi infeksi.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>Kulit melepuh</strong><br />
Dapat terjadi jika sepatu selalu menggesek kaki pada daerah yang sama. <span lang="FI">Disebabkan penggunaan sepatu yang      kurang pas atau tanpa kaus kaki. Kulit melepuh dapat berkembang menjadi      infeksi. Hal penting untuk menangani kulit melepuh adalah dengan tidak      meletuskannya, karena kulit melindungi lepuhan dari infeksi. </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kuku kaki yang tumbuh ke dalam </span></strong><span lang="FI"><br />
Terjadi ketika ujung kuku tumbuh ke dalam kulit dan menimbulkan tekanan      yang dapat merobek kulit sehingga kulit menjadi kemerahan dan terinfeksi.      Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dapat terjadi jika anda memotong kuku      sampai ke ujungnya, dapat pula disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu      ketat atau trauma kaki karena aktivitas seperti berlari dan aerobik. Jika      ujung kuku kaki anda kasar, gunakan kikir untuk meratakannya. </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Pembengkakan ibu jari kaki </span></strong><span lang="FI"><br />
Terjadi jika ibu jari kaki condong ke arah jari di sebelahnya sehingga      menimbulkan kemerahan, rasa sakit, dan infeksi. Dapat terjadi pada salah      satu atau kedua kaki karena penggunaan sepatu berhak tinggi dan ujung yang      sempit. Pembengkakan yang menimbulkan rasa sakit dan deformitas (perubahan      bentuk) kaki dapat diatasi dengan pembedahan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><strong><span lang="FI">Plantar warts</span></strong></em><span lang="FI"><br />
Kutil terlihat seperti kalus dengan titik hitam kecil di pusatnya. Dapat      berkembang sendiri atau berkelompok. Timbulnya kutil disebabkan oleh virus      yang menginfeksi lapisan luar telapak kaki. </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Jari kaki bengkok </span></strong><span lang="FI"><br />
Terjadi ketika otot kaki menjadi lemah. Kerusakan saraf karena </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a><span lang="FI"> dapat menyebabkan kelemahan ini. Otot yang      lemah dapat menyebabkan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan      tulang) di kaki memendek sehingga jari kaki menjadi bengkok. Akan      menimbulkan masalah dalam berjalan dan kesulitan menemukan sepatu yang      tepat. Dapat juga disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu pendek. </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kulit kaki kering dan pecah </span></strong><span lang="FI"><br />
Dapat terjadi karena saraf pada kaki tidak mendapatkan pesan dari otak      (karena neuropati diabetik) untuk berkeringat yang akan menjaga kulit      tetap lembut dan lembab. Kulit yang kering dapat pecah. Adanya pecahan      pada kulit dapat membuat kuman masuk dan menyebabkan infeksi. Dengan gula      darah anda yang tinggi, kuman akan mendapatkan makanan untuk berkembang      sehingga memperburuk infeksi.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><strong><span lang="FI">Athlete&#8217;s foot</span></strong></em><strong><span lang="FI"> (kaki atlet) </span></strong><span lang="FI"><br />
Disebabkan jamur yang menimbulkan rasa gatal, kemerahan, dan pecahnya      kulit. Pecahnya kulit di antara jari kaki memungkinkan kuman masuk ke      dalam kulit dan menimbulkan infeksi. Infeksi dapat meluas sampai ke kuku      kaki sehingga membuatnya tebal, kekuningan, dan sulit dipotong. </span></li>
</ul>
<p style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/Ikhwan/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" border="0" alt="" width="350" height="204" /><!--[endif]--></p>
<p><span lang="SV">Konsultasikan dengan dokter anda jika anda menemukan masalah apapun dengan kaki anda. Sepatu yang di desain khusus dapat dibuat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus melindungi kaki anda. Kelainan pada kaki yang segera diatasi dapat mencegah terjadinya ulkus, sehingga kemungkinan komplikasi kaki diabetik dapat dihindari.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Verdana;color:#0066ff;">Penyebab Kaki Diabetik </span></strong></p>
<p><span lang="SV">Terjadinya kaki diabetik tidak terlepas dari tingginya kadar gula (glukosa) darah pada penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV">. Tingginya kadar gula darah yang berkelanjutan dan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan masalah pada kaki penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV">, yakni: </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Kerusakan saraf </span></strong><span lang="SV"><br />
Masalah pertama yang timbul adalah kerusakan saraf di tangan dan kaki. Saraf      yang telah rusak membuat penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV"> tidak dapat merasakan sensasi sakit, panas,      atau dingin pada tangan dan kaki. Luka pada kaki dapat menjadi buruk      karena penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV"> tidak menyadari adanya luka tersebut.      Hilangnya sensasi rasa ini disebabkan kerusakan saraf yang disebut sebagai      neuropati diabetik. Neuropati diabetik terjadi pada lebih dari 50%      penyandang </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV">. Gejala yang umum terjadi adalah rasa kebas      (baal) dan kelemahan pada kaki dan tangan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Gangguan pembuluh darah </span></strong><span lang="SV"><br />
Masalah kedua adalah terjadinya gangguan pada pembuluh darah, sehingga      menyebabkan tidak cukupnya aliran darah ke kaki dan tangan. Aliran darah      yang buruk ini akan menyebabkan luka dan infeksi sukar sembuh. Ini disebut      penyakit pembuluh darah perifer (pembuluh darah tepi) yang umum menyerang      kaki dan tangan. </span>Penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> yang merokok akan semakin memperburuk aliran darahnya.</li>
</ul>
<p>Kedua masalah di atas dapat menyebabkan terjadinya kaki diabetik. Ditambah lagi dengan rentannya penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> terhadap risiko infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun, akan semakin memperbesar risiko mengalami komplikasi kaki diabetik.</p>
<p>Sebagai gambaran, misalnya kaki anda terluka karena penggunaan sepatu yang sempit. Anda tidak menyadari dan tidak merasakan sakit karena adanya kerusakan saraf pada kaki anda. Selanjutnya, luka yang awalnya kecil itu akan terinfeksi. Pada penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a>, kadar gula dalam darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman. Kuman kemudian berkembang biak dan menyebabkan infeksi bertambah buruk. Hal ini diperparah dengan aliran darah kaki yang buruk sehingga memperlambat proses penyembuhan luka.</p>
<p>Infeksi yang tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan gangren. Pada gangren, kulit dan jaringan di sekitar luka tersebut akan mati (nekrotik), sehingga daerah di sekitar luka tersebut akan berwarna kehitaman dan menimbulkan bau. Untuk mencegah gangren meluas, dokter dapat mengambil tindakan operasi untuk memotong jari kaki atau bagian dari kaki yang terinfeksi. Pemotongan bagian tubuh ini dikenal dengan istilah amputasi. <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">Diabetes</a> merupakan penyebab umum non-traumatik kasus amputasi kaki.</p>
<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Verdana;color:#0066ff;">Pencegahan Kaki Diabetik </span></strong></p>
<p>Berikut beberapa kiat perawatan kaki untuk mencegah komplikasi kaki diabetik pada penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a>:</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Periksa kedua kaki setiap hari. Apakah ada      bisul, perubahan warna atau perasaaan yang berbeda. </span>Bila perlu      minta batuan orang lain atau gunakan cermin untuk melihatnya.</li>
<li class="MsoNormal">Cuci kaki setiap hari.      Gunakanlah air sabun hangat (jangan panas), lalu keringkan kedua kaki      dengan seksama.</li>
<li class="MsoNormal">Kuku kaki dipotong rata,      kikirlah ujung-ujungnya yang kasar.</li>
<li class="MsoNormal">Jangan menggunakan obat      penghilang kutil, atau memotong sendiri mata ikan atau kapalan pada kaki      anda. Sebaiknya pergilah ke dokter umum atau dokter ahli perawatan kaki      (podiatris).</li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Kenakan sepatu yang lembut dan nyaman. Setiap      hari periksa bagian dalam sepatu, kalau-kalau ada potongan atau sudut      tajam yang bisa melukai. </span>Jangan berjalan pada lantai atau jalan      yang kasar dengan kaki telanjang.</li>
<li class="MsoNormal">Hindari celana ketat atau      mengenakan sesuatu yang ketat di pergelangan kaki.</li>
<li class="MsoNormal">Hentikan merokok yang dapat      memperparah peredaran darah yang buruk ke kaki.</li>
</ul>
<p>Upaya pencegahan bagi penyandang <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik dapat dilakukan dengan cara mengendalikan kadar gula darah selalu mendekati nilai normal. <span lang="SV">Hal ini karena komplikasi </span><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a><span lang="SV"> dapat dicegah, ditunda, atau diperlambat dengan mengendalikan kadar gula darah.</span></p>
<p>Ada empat hal utama yang dapat anda lakukan untuk mengendalikan kadar gula darah, yaitu:</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Pengaturan makan/diet dengan penekanan pada      pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah      makanan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Olahraga/aktivitas fisik secara teratur yakni      3-5 kali seminggu selama 30-60 menit. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Pengobatan yang sesuai petunjuk dokter bila      gula darah tidak dapat dikendalikan dengan pengaturan pola makan dan      latihan fisik. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Evaluasi kesehatan dengan melakukan evaluasi      medis secara lengkap meliputi pemeriksaan fisik, riwayat penyakit, dan      pemeriksaan laboratorium. </span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:12pt;" lang="SV">Sementara bagi penyandang </span><span style="font-size:12pt;"><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a></span><span style="font-size:12pt;" lang="SV"> yang telah terlanjur mengalami komplikasi kaki diabetik, tetap harus mengendalikan kadar gula darah dan ditambah dengan perawatan kaki yang baik. Jika terjadi luka, harus ditangani segera oleh tenaga medis. Dokter akan memberikan antibiotik jika luka anda telah mengalami infeksi. Jangan merawat sendiri luka anda, karena jika terjadi salah penanganan dapat menyebabkan luka meluas dan infeksi menyebar sehingga dapat menimbulkan gangren (pembusukan) yang selanjutnya perlu dilakukan amputasi.</span></p>
<p>Edukasi terhadap penyandang <span style="font-size:12pt;"><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="SV">diabetes</span></a></span><span style="font-size:12pt;" lang="SV"> mutlak diperlukan agar tumbuh kesadaran untuk memeriksa kaki setiap hari sehingga setiap bentuk kelainan kaki dapat segera teridentifikasi sebelum menimbulkan luka. </span><span style="font-size:12pt;" lang="FI">Tekanan dan gesekan terus-menerus yang dialami kaki suatu saat akan menimbulkan luka. Jika hal ini terus berlangsung dan tidak disadari oleh penyandang </span><span style="font-size:12pt;"><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a></span><span style="font-size:12pt;" lang="FI">, maka luka akan semakin dalam dan meluas.</span></p>
<p>Hal terpenting yang perlu diperhatikan setiap penyandang <span style="font-size:12pt;"><a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2"><span lang="FI">diabetes</span></a></span><span style="font-size:12pt;" lang="FI"> adalah mencegah terjadinya luka pada kaki, sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi kaki diabetik dapat dicegah. Pada akhirnya, kemungkinan infeksi yang meluas sampai berkembang menjadi gangren dan risiko amputasi dapat dihindari. </span><em><strong><span style="font-size:12pt;">Jangan sampai <a href="http://medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=135&amp;keyword=diabetes;mellitus;gula;darah;tipe;I;II;ketoasidosis;diabetikum;koma;hipoglikemia;retinopati;insulin;Glukosa;pankreas;obesitas;kortikosteroid;hamil;gestasional;poliuri;polidipsi;polifagi;koma;hiperglikemia;hiperosmolar;aterosklerosis;jantung;stroke;&amp;idktg=11&amp;UID=20080625082731125.208.146.2">diabetes</a> mencuri kaki anda!</span></strong></em><span style="font-size:12pt;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmugiziindonesia.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmugiziindonesia.wordpress.com&blog=4121115&post=10&subd=ilmugiziindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmugiziindonesia.wordpress.com/2008/07/02/waspadai-komplikasi-kaki-diabetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ebed8577d12de577d9750e9aa8c7482?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmugiziindonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/Ikhwan/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>